Belum ada kata terlambat, untuk menulis sebuah surat cinta utk buah hatiku. Aku tuliskan surat ini tepat pada usiamu 2 tahun. “Key, aku panggil kamu seperti itu sejak kamu tumbuh dalam rahimku. Kamu memang anak yang sangat aktif, itu aku rasakan sejak kamu ada dalam rahimku. Gerakmu di dalam perutku begitu kuat hingga kadang aku kewalahan.. heem.. aku jadi teringat masa-masa 9 bulan kamu didalam perutku. Kamu memang anak yang luar biasa.
Tiba saatnya ketika kamu lahir. Tgl 14 November 2007 di kota Malang. Kebahagiaanku dan sujud syukur aku rasakan begitu aku melihat sosok Key yg mungil. Rambutmu hitam dan lebat, kulitmu kemerahaan dan suara tangisanmu begitu kerasnya.
Dari hari ke hari, minggu ke minggu hingga bulan berganti bulan. Key, aku merasakan perkembanganmu, kamu cepat belajar dan meniru semua apa yang kamu lihat juga rasakan. Key anakku aku selalu merasakan setiap waktu dari pertumbuhanmu. Kelak besar jadilah anak yang baik, berbakti pada orangtua dan negara, juga menjadi anak yang soleh.
Kini usiamu memasuki 2 tahun tepatnya ya tgl 14 November 2009. Di usia itu kamu mulai aku masukan sekolah PAUD (pendidikan anak usia dini) sekolahnya seminggu 2 kali setiap hari senin dan kamis. Belajar bernyanyi, mengenal lebih banyak kosa kata dan yang lebih penting disana kamu mulai belajar bersosialisasi. Ah... key.. tidak terasa kamu sudah tumbuh besar.
Baru beberapa kali kamu mengikuti kelas PAUD, aku terpaksa mendaftarkan kamu di TPA(tempat penitipan anak). Karena orang yang biasa menjagamu dirumah harus pulang kampung dan tidak kembali, sedangkan penggantinya sulit sekali untuk mendapatkannya. Selamat tinggal PAUD. Senin, tgl 09 Nov 2009 itu adalah hari pertama kamu di TPA plus sekolah di CHEVIRA KIDS Jl. Ciwulan. Jujur aja, aku sedih Key. Rasa khawatir dan cemas itu selalu ada di hatiku. Tapi aku seperti tidak bisa berbuat apa-apa, hanya doa dan sebuah harapan Semoga kamu baik-baik aja.
Setiap pagi aku selalu mengantarmu ke TPA dengan menggunakan motor. Key, asal kamu tau, hampir setiap aku mengantarmu hati ini ingin menangis. Aku tidak tega melihatmu harus naik motor kena angin dan kepanasan. Karena kamu masih terlalu kecil. Ah... ibu macam apa aku ini ya Key!! aku sedih tidak bisa membuat kamu nyaman. Maafkan ibu... ya nak..
Hanya sebuah Do'a yang selalu aku panjatkan, semoga Key juga aku kuat melalui semua ini. Dan aku percaya Allah akan selalu melindungi kita. Amien...
---
Minggu, Desember 13, 2009
SURAT CINTA PERTAMA UTK BUAH HATIKU
Sabtu, Mei 30, 2009
"Arti Senyummu Untukku"
Aku tidak bisa jauh darinya, aku selalu merindukannya. Bayang wajahnya, senyumnya, tawa dan candanya selalu mengusik didalam benakku. Dan terus saja menari-nari didepan mataku.
Disaat aku sedih dan gundah tiba-tiba saja senyummu hadir untuk menghiburku. Kamu memang ada untuk selalu memberi aku arti hidup. Disaat kamu membuat aku lelah karna tingkah lakumu aku tidak akan pernah mengeluh karna aku begitu menikmati gerak gerikmu dan tingkah lakumu yang kadang membuat aku tertawa, tersenyum dan ingin mencubitmu karna aku terlalu gemas melihatmu.
Ketika jam menunjukkan Pk. 08.30 aku harus sisp-siap berangkat kekantor, saat itu juga rasa malas menyelimuti diri. “ah aku malas meninggalkan rumah, aku hanya ingin ada dirumah”, tapi senyummu membuat rasa malasku menjadi semangatku di pagi hari.
Dan ketika waktu menunjukkan Pk. 18.00 aku harus siap-siap berkemas pulang dengan perasaan semangat, senang dan happy. Karna aku akan bertemu senyum itu. Dalam perjalanan pulangpun bayangmu terus menggodaku, senyum dan tawamu menari-nari dimataku. Mungkin kalau ada orang yang memperhatikanku pasti aku dikira orang nga waras tertawa dan tersenyum sendiri.
Tiba dirumah selalu kukatakan KEY sudah tidur ? Dan aku selalu mendengar, lagi mau tidur sedang minum susu. Ah.. aku tidak sempat melihat senyum itu. Namun aku segera bergegas menuju kamarnya. Kulihat dia sedang asyik memegang botol susunya yang tinggal sedikit lagi habis begitupun dia kulihat matanya sudah mulai mengantuk. Lalu perlahan kudekati, sambil kucium lembut pipi tembemnya dan perlahan kubisikan. I love u ... I love u... I love u... berikan selalu senyummu untuk ku nak. Karna senyummu adalah matahari untukku.
KECAPI
Sebulan yang lalu aku ada di kota yang selama ini aku rindukan yaitu Jakarta dan sekitarnya. Tepatnya tanggal 22 – 26 April 2009 ada training program baru dari Kantor pusat, waktu yang pas untuk sekalian PulKam (pulang kampung hehehe..). Sudah sangat lama sekali aku tidak menghirup udara kota itu. Ah.. Jakarta aku benar-benar merindukanmu. Tidak terasa saat tiba diBandara Soekarno Hatta air mata ini menetes(duh cengeng banget ye..), ini bukan kesedihan tapi rindu yang sangat dalam dan tidak pernah aku duga akhirnya aku bisa kembali ke kota ini, bertemu dengan kedua orangtua, adik-adik, kakek, tante, om dan sepupuh pokoknya semuaaa... yang aku rindukan. Terima kasih Tuhan ternyata aku masih diberi kesempatan untuk bisa melihat dan berdiri di kota yang sudah membesarkanku. Terima kasih...
Sampai diBandara aku dan rekan-rekan dijemput oleh rekan dari kantor pusat (drivernya kantor pusat namanya Pak Agus) dari logatnya bicara terlihat sekali dia pasti orang asli Jakarta. Tiba di HO (sebutan untuk kantor pusat) rombongan kita tidak sempat istirahat atau makan siang. Kita langsung mengikuti training. Bisa dibayangkan perut lapar dan yang pastinya tidak bisa konsentrasi. Meeting/briefing/temu wicara atau apapun istilahnya, yang pastinya kita all HRD ketemu dan saling membahas kendala, permasalahan di setiap cabang-cabang store. Sebelum membahas ke titik pokok. Tentunya kita saling berkenalan donk. Saat itu aku senang sekali karna aku jadi memiliki banyak teman dan wawasan baru. Ah ternyata aku selama ini tidak sendiri. Jadi lupa deh sama rasa lelah dan laparnya. Waktu menunjukan Pk. 21.30 kurang lebihnya kita baru break and makan malam. Duh rasanya perut sudah tidak selera + lambung terasa perih karna telat makan ditambah lagi badan terasa masuk angin. Setelah break dan makan malam meeting dilanjutkan kembali. Ya ampun sempat stress juga nih. Kapan pulangnya. Terpaksa ikutin aja deh acara hari itu.
Entah jam berapa meeting selesainya, karna pikiranku sudah tertuju ingin segera tiba di Depok bertemu ortu dan adik-adik. Sesampainya dirumah ortu, aku senang sekali. Aku tidak sempat mandi dan ganti baju, tapi aku langsung lanjutkan untuk ngobrol-ngobrol melepas rindu hingga jam menunjukan Pk. 02.30 pagi. Duh begadang donk, padahal jam 06.00 aku harus berangkat kembali ke kantor melanjutkan training tersebut. Nga apa-apalah toh tidak setiap hari aku bisa ngobrol dan begadang dengan keluargaku. Waktu tiga hari aku habiskan di kantor pusat. Lelah fisik dan capek otak, tapi semua itu terbayar dengan senyum dan tawa canda yang membuat aku lupa akan lelah. Karna hari ke4 aku diJakarta, aku habiskan bersama keluarga besar ibuku, jalan-jalan ke Bogor, makan bersama direstaurant mewah(yang aku sendiri belum pernah hehehe.. maklum jadi udik dikit), melihat permainan bola air raksasa, melihat ikan, ngerumpi bersama ibu-ibu PGG (pasukan gege-gede) hehehe... pokoknya seru habis... saat itu aku teringat Key terus, coba Key ada disini, kamu pasti juga akan ikut senang. Para ibu-ibu PGG nanyain Key nya nga habis-habis juga. Key udah bisa apa ? Seperti apa ? Suka rewel nga ? Kapan di bawa ke Jakarta ? Dan lain-lain banyak deh pertanyaannya. Aku menyimpulkan kalau mereka (keluarga besar ibuku) ingin sekali melihat anakku. Aku hanya bisa berkata dalam hati, jika waktu dan kondisinya tepat aku pasti akan bawa Key ke Jakarta, Ya Allah ijinkan aku dan anakku untuk bisa hadir ditengah-tengah keluarga besar ibuku. Amien..
Setelah jalan-jalan yang mengasyikan itu, nga ketinggalan donk cari ole-ole buat dibawa ke Malang. Aku pengen sekali bawa ole-ole yang diMalang tidak ada tentunya. Tiba-tiba aku teringat buah khas Betawi yaitu, KECAPI. Nah buah tersebut tidak akan ditemukan didaerah manapun kecuali ya di Betawi ini. Aku tanya sana sini sampai aku tanya tetangga dikampungku (Depok kelapa Dua) yang memiliki pohon kecapi, ternyata memang aku lagi nga beruntung. Ternyata KECAPI tsb lagi tidak musimnya (lagi tidak berbuah). Ya gagal deh bawa ole-ole khas Betawi. KECAPI... KECAPI... aku sedih lho tidak menemukan buah itu. Karna aku tau jaman sekarang ini sangat sulit sekali menemukan buah itu, sedikit demi sedikit aku semakin yakin kalau buah itu akan musnah, dan aku yakin orang-orang tidak akan pernah tau apa itu buah KECAPI. Yang orang-orang tau adalah alat musik KECAPI. Hampir semua orang yang pernah aku temui seperti tidak peduli dengan buah ini. Mungkin buat mereka apa pentingnya. Tapi buat aku penting sekali, aku sedih kalau buah ini akan benar-benar hilang. Bagaimana nanti aku kalau memberitahu pada anak dan cucuku, kasihan mereka tidak akan pernah melihat apa itu buah KECAPI.
KECAPI... orang pasti akan berpikir "apa istimewanya buah ini" dari tampangnya aja tidak meyakinkan. Ya kalau dari tampangnya jelas kalah keren dengan apel atau anggur juga kalah pamor dengan durian montong. Tapi buat aku lagi KECAPI ini buah yang sangat istimewa, karna dijamin jauh dari Kolesterol tinggi hehehe... Warnanya yang hijau kekuningan, kulitnya yang tebal, rasanya yang agak asam manis, dan kalau mau memakannya penuh perjuangan. Tapi tetap aku menyukainya. Hidup KECAPI. Suatu saat nanti dan semoga aja aku bisa mempertahankan buah ini agar tetap ada. Amien...
Kamis, April 02, 2009
BERSYUKUR
Dari tadi pagi hujan mengguyur kota tanpa henti, udara yang biasanya sangat panas,hari ini terasa sangat dingin. Di jalanan hanya sesekali mobil yang lewat, hari ini hari libur membuat orang kota malas untuk keluar rumah. Di perempatan jalan, Umar,seorang anak kecil berlari-lari menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah, dia membiarkan tubuhnya terguyur air hujan, hanya saja dia begitu erat melindungi koran dagangannya dengan lembaran plastik.
"Korannya, bu!" seru Umar berusaha mengalahkan suara air hujan. Dari balik kaca mobil si ibu menatap dengan kasihan, dalam hatinya dia merenung anak sekecil ini harus berhujan-hujan untuk menjual koran. Dikeluarkannya satu lembar dua puluh ribuan dari lipatan dompet dan membuka sedikit kaca mobil untuk mengulurkan lembaran uang. "Mau koran yang mana, bu?" tanya Umar dengan riang. "Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau koran tadi pagi aku juga sudah baca," jawab si ibu. Si Umar kecil itu tampak terpaku, lalu diulurkan kembali uang dua puluh ribu yang dia terima, "Terima kasih bu, saya menjual koran, kalau ibu mau beli koran silakan, tetapi kalau ibu memberikan secara cuma-cuma, mohon maaf saya tidak bisa menerimanya," Umar berkata dengan muka penuh ketulusan.
Dengan geram si ibu menerima kembali pemberiannya, raut mukanya tampak kesal, dengan cepat dinaikkannya kaca mobil.. Dari dalam mobil dia menggerutu, "Udah miskin, sombong!". Kakinya menginjak pedal gas karena lampu menunjukkan warna hijau, meninggalkan Umar yang termenung penuh tanda tanya.
Umar berlari lagi kepinggir, dia mencoba merapatkan tubuhnya dengan dinding ruko tempatnya berteduh. Tangan kecilnya sesekali mengusap muka untuk menghilangkan butir-butir air yang masih menempel. Sambil termenung dia menatap nanar rintik-rintik hujan didepannya: "Ya Tuhan, hari ini belum satupun koranku yang laku," gumamnya lemah.
Hari beranjak sore namun hujan belum juga reda, Umar masih saja duduk berteduh di emperan ruko, sesekali tampak tangannya memegangi perut yang sudah mulai lapar. Tiba-tiba di depannya sebuah mobil berhenti, seorang bapak dengan bersungut-sungut turun dari mobil menuju tempat sampah. Ia berkata, "Tukang gorengan sialan, minyak kaya gini bisa bikin batuk," dengan penuh kebencian dicampakkannya satu plastik gorengan ke dalam tong sampah, dan beranjak kembali masuk ke mobil.
Umar dengan langkah cepat menghampiri laki-laki yang ada di mobil. "Mohon maaf pak, bolehkah saya mengambil makanan yang baru saja bapak buang untuk saya makan", pinta Umar dengan penuh harap. Pria itu tertegun, luar biasa anak kecil didepannya. Seharusnya dia bisa saja mengambilnya dari tong sampah tanpa harus meminta ijin. Muncul perasaan belas kasihan dari dalam hatinya. "Nak, bapak bisa membelikan kamu makanan yang baru, kalau kamu mau." "Terima kasih pak, satu kantong gorengan itu rasanya sudah cukup bagi saya, boleh khan pak?" tanya Umar sekali lagi."Bbbbbooolehh," jawab pria tersebut dengan tertegun.
Umar berlari riang menuju tong sampah, dengan wajah sangat bahagia dia mulai makan gorengan, sesekali dia tersenyum melihat laki-laki yang dari tadi masih memandanginya. Dari dalam mobil sang bapak memandangi terus Umar yang sedang makan. Dengan perasaan berkecamuk didekatinya Umar. "Nak, bolehkah bapak bertanya, kenapa kamu harus meminta ijinku untuk mengambil makanan yang sudah aku buang?" Dengan lembut pria itu bertanya dan menatap wajah anak kecil didepannya dengan penuh perasaan kasihan.
"Karena saya melihat bapak yang membuangnya, saya akan merasakan enaknya makanan halal ini kalau saya bisa meminta ijin kepada pemiliknya, meskipun buat bapak mungkin sudah tidak berharga, tapi bagi saya makanan ini sangat berharga, dan saya pantas untuk meminta ijin memakannya," jawab si anak sambil membersihkan bibirnya dari sisa minyak goreng.
Pria itu sejenak terdiam, dalam batinnya berkata, anak ini sangat luar biasa. "Satu lagi nak, aku kasihan melihatmu, aku lihat kamu basah dan kedinginan, aku ingin membelikanmu makanan lain yang lebih layak, tetapi mengapa kamu menolaknya?" Si anak kecil tersenyum dengan manis, "Maaf pak, bukan maksud saya menolak rejeki dari Bapak. Buat saya makan sekantong gorengan hari ini sudah lebih dari cukup. Kalau saya mencampakkan gorengan ini dan menerima tawaran makanan yang lain yang menurut Bapak lebih layak, maka sekantong gorengan itu menjadi mubazir, basah oleh air hujan dan hanya akan jadi makanan tikus." "Tapi bukankah kamu menyia-nyiakan peluang untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih nikmat dengan makan di restoran dimana aku yang akan mentraktirnya," ujar sang laki-laki dengan nada agak tinggi karena merasa anak di depannya berpikir keliru. Umar menatap wajah laki-laki didepannya dengan tatapan yang sangat teduh, "Bapak, saya sudah sangat bersyukur atas berkah sekantong gorengan hari ini. Saya lapar dan bapak mengijinkan saya memakannya.." Umar memperbaiki posisi duduknya dan berkata kembali, "Dan saya merasa berbahagia, bukankah bahagia adalah bersyukur dan merasa cukup atas anugerah hari ini? Bukan menikmati sesuatu yang nikmat dan hebat hari ini tetapi menimbulkan keinginan dan kedahagaan untuk mendapatkannya kembali di kemudian hari."
Umar berhenti berbicara sebentar, lalu diciumnya tangan laki-laki di depannya untuk berpamitan. Dengan suara lirih dan tulus Umar melanjutkan kembali, "Kalau hari ini saya makan di restoran dan menikmati kelezatannya dan keesokan harinya saya menginginkannya kembali sementara bapak tidak lagi mentraktir saya, maka saya sangat khawatir apakah saya masih bisa merasakan kebahagiaannya."
Pria tersebut masih saja terpana, dia mengamati anak kecil di depannya yang sedang sibuk merapikan koran dan kemudian berpamitan pergi. "Ternyata bukan dia yang harus dikasihani, seharusnya aku yang layak dikasihani, karena aku jarang bisa berdamai dengan hari ini." (Sumber: Email dari seorang teman)
KASIHILAH IBU
Ibu melahirkan kita sambil menangis kesakitan. Masihkah kita menyakitkannya?
Masih mampukah kita tertawa melihat penderitaannya?
Mencaci makinya? Melawannya?
Memukulnya? Mengacuhkannya?
Meninggalkannya?
Ibu tidak pernah mengeluh membersihkan kotoran kita waktu masih kecil,
Memberikan ASI waktu kita bayi,
Mencuci celana kotor kita,
Menahan derita,
Menggendong kita sendirian.
Di saat ibumu tidur, coba kamu lihat matanya dan bayangkan matanya takkan terbuka untuk selamanya.. tangannya tak dapat hapuskan airmatamu dan tiada lagi nasihat yang sering kita abaikan.. bayangkan ibumu sudah tiada.. apakah kamu cukup membahagiakannya. . apakah kamu pernah berfikir bertapa besar pengorbanannya semenjak kamu berada di dalam perutnya... kirim pesan ini pada semua... itupun kalau kamu sayang ibumu dan mau mengingatkan teman2mu.
Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi bahagia:
1. Bebaskan hatimu dari rasa benci.
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran.
3. Hiduplah dengan sederhana.
4. Berikan lebih banyak (give more).
5. Jangan terlalu banyak mengharap (expect less).
SADARILAH bahwa di dunia ini tidak ada 1 orang pun yang mau mati demi IBU, tetapi...
Beliau justru satu-satunya orang yang bersedia mati untuk melahirkan kita…
(dikirim dari seorang teman)
Rabu, Januari 28, 2009
CERITA 3 SAHABAT
Dimana ada tempat yang Ok buat ngobrol sampai puas pasti ada trio wek-wek yaitu Yeni, Dina dan Feni. Mereka bertiga bersahabat dari masih kuliah. Kemana aja mereka selalu bersama-sama (“nga bosan tuh”). Sampai bekerja pun, entah disengaja atau kebetulan saja mereka diterima bekerja dalam satu perusahaan. Yeni bekerja sebagai Finance Manager, Feni Ka Bag Purcashing dan Dina sendiri bagian Personalia. Kelihatannya mereka asyik dengan pekerjaannya masing-masing dan kelihatannya juga mereka orang-orang yang hidup tanpa ada beban masalah. Ya, mereka terlihat enjoy menikmati hari-harinya.
Namun suatu hari, Dina datang padaku dan bercerita banyak hal, terutama kehidupan rumah tangganya yang bisa dibilang tidak bahagia. Dia harus jauh dari anak dan suaminya. Padahal untuk bersama dengan anak dan suaminya adalah hal yang mudah dia lakukan, tapi sepertinya ada dinding yang tinggi menghalanginya, dan dia tidak dapat berbuat apa-apa, katanya “aku hanya menunggu doa yang terkabulkan, semoga ini semua dapat segera terwujud, bantu aku dalam doa ya”. Iya pasti, aku mengangguk pelan sambil memandang ke Dina. Tidak kusangka, Dina yang selalu terlihat tegar, ternyata menyimpan duka dan kesedihan yang dalam.
Seminggu kemudian ketika aku jjs disebuah Mall yang cukup bergengsi di salah satu sudut kota Jakarta. Aku melihat Feni duduk seorang diri di Bento Cafe, kemudian aku menyapa dan mendekatinya. “Hai Fen sendirian aja, ganggu nga?” terlihat sekali di wajah Feni ada yang dipikirkan. “Eh Denok!” iya aku lagi pengen sendirian aja, merenung cari wangsit bukan pangsit hehehe. (Feni sempat-sempatnya ngajak bercanda). Dan Feni mulai bercerita panjang lebar. Dia rindu kekasihnya yang ada di Negeri paman Sam. Rencananya meried di tahun ini gagal,wa kekasihnya sibuk bekerja dan belum ada waktu untuk rencana tersebut. Kekasihnya Feni orang bule, ganteng, tajir, baik pokoknya Ok banget deh. Cocok dengan Feni yang cantik, lemah lembut dan tajir juga. Pasangan yang ideal neh. Ternyata, itu semua tidak menjamin kebahagian seseorang.
Lain halnya dengan Dina dan Feni. Yeni juga pernah bercerita pada ku. Dia tipe orang yang gila kerja. Mottonya hidup buat dia untuk bekerja, sampai akhirnya dia menyadari bahwa dia harus segera berlabuh. Dan orangtuanya pun sudah sering sekali mempertanyakan kapan meried. Dina terlihat stress sekali jika dikasih pertanyaan tersebut “meried!” pacar aja nga punya terus mo meried sama siapa.
Ketiga sahabat itu punya cerita masing-masing, tapi kenapa mereka tidak saling bercerita tentang masalah dan bebannya masing-masing. Setiap aku tanyakan itu ke mereka, jawabnya sama “aku ngga mau masalahku jadi beban sahabatku, karna sahabatku punya masalah yang cukup berat juga”. Inilah kehidupan, penuh dengan cerita atau dunia panggung sandiwara katanya lagu Iwan Fals.
